Menuju Nol Emisi: Mengapa Hutan Adalah Sekutu Terbaik Kita

28 September 2026

Hutan, penyimpan karbon, dan solusi berbasis alam (nature-based solutions)

Nol emisi sering dipahami sebagai berhenti melepaskan karbon sama sekali. Pengertian ilmiahnya lebih praktis: emisi karbon dioksida (CO₂) yang masih tersisa diimbangi oleh jumlah yang diserap dan disimpan kembali, sehingga tidak ada tambahan bersih di atmosfer. Untuk sampai ke sana, dunia harus bergerak di dua sisi sekaligus: memperkecil emisi yang dilepaskan, dan menjaga serta memperbesar kemampuan alam untuk menyerapnya. Hutan berada tepat di tengah kedua sisi itu.

Ruang geraknya makin sempit. Menurut Global Carbon Budget 2025, sisa anggaran karbon untuk menahan pemanasan 1,5°C dengan peluang 50 persen tinggal sekitar 170 miliar ton CO₂ sejak awal 2026. Angka itu setara sekitar empat tahun emisi pada level 2025 (Friedlingstein dkk., 2026).

Dua sumber emisi, dua jalan keluar

Emisi CO₂ akibat aktivitas manusia datang dari dua sumber besar. Sumber pertama adalah bahan bakar fosil: pada 2025, emisinya diperkirakan sekitar 38,1 miliar ton CO₂, atau sekitar 90 persen dari total emisi manusia yang mencapai 42,2 miliar ton. Sumber kedua adalah perubahan penggunaan lahan, terutama deforestasi. Emisi bersih dari sumber ini rata-rata sekitar 5 miliar ton CO₂ per tahun pada 2015–2024, dan diperkirakan turun menjadi sekitar 4,1 miliar ton pada 2025, terutama karena berakhirnya kondisi El Niño (Friedlingstein dkk., 2026).

Angka lahan memang lebih kecil dibanding fosil, tetapi tidak bisa diabaikan, dan kedua sumber ini membutuhkan jalan keluar yang berbeda. Emisi fosil turun lewat transisi energi. Emisi lahan turun dengan menghentikan kerusakan ekosistem yang menyimpan karbon. Karena sisa anggaran karbon begitu tipis, kedua jalur harus berjalan bersamaan.

Hutan: penyimpan karbon sekaligus sumber emisi

Ekosistem alami adalah sekutu iklim yang bekerja tanpa henti. Dalam dekade 2015–2024, daratan menyerap sekitar 21 persen emisi buatan manusia dan lautan sekitar 29 persen. Hutan menyimpan karbon di batang, akar, dan tanahnya, serta menyerap CO₂ lewat fotosintesis selama ia tumbuh.

Sebaliknya, hutan yang ditebang atau dibakar melepaskan karbon yang tersimpan itu. Deforestasi masih menjadi pendorong utama emisi kotor dari lahan: sekitar 1,9 miliar ton karbon per tahun pada 2015–2024, setara sekitar 7 miliar ton CO₂. Kabar baiknya, penanaman hutan baru dan regenerasi hutan menyerap sekitar 1,3 miliar ton karbon per tahun (sekitar 4,8 miliar ton CO₂), atau menutup dua pertiga emisi deforestasi (Friedlingstein dkk., 2026). Artinya, melindungi hutan yang masih ada dan memulihkan yang rusak sama-sama berdampak nyata.

Indonesia memiliki posisi penting di sini, dan posisi itu tidak selalu menyenangkan. Pada 2015–2024, Brasil, Indonesia, dan Republik Demokratik Kongo bersama-sama menyumbang lebih dari separuh emisi CO₂ global dari penggunaan lahan. Keputusan kita tentang hutan berpengaruh langsung pada peluang dunia mencapai nol emisi.

Apa itu solusi berbasis alam, dan seberapa besar potensinya?

Solusi berbasis alam (nature-based solutions) adalah tindakan melindungi, memulihkan, dan mengelola ekosistem secara berkelanjutan agar manusia dan alam sama-sama diuntungkan. Salah satu kajian rujukan di bidang ini, Griscom dkk. (2017), mengidentifikasi 20 tindakan konservasi, restorasi, dan pengelolaan lahan yang meningkatkan simpanan karbon atau menghindari emisi di hutan, lahan basah, padang rumput, dan lahan pertanian.

Hasilnya menunjukkan bahwa solusi iklim berbasis alam dapat menyediakan 37 persen mitigasi CO₂ yang efektif secara biaya hingga 2030, agar peluang menahan pemanasan di bawah 2°C tetap di atas 66 persen. Porsi terbesarnya datang dari hutan: jalur-jalur kehutanan menyumbang lebih dari dua pertiga mitigasi berbasis alam yang efektif secara biaya. Manfaatnya tidak berhenti pada karbon. Bila dijalankan dengan baik, sebagian besar tindakan ini turut menyediakan penyaringan air, penahan banjir, kesehatan tanah, habitat keanekaragaman hayati, dan ketahanan iklim.

Ada dua catatan penting. Pertama, solusi berbasis alam bukan pengganti dekarbonisasi energi. Dengan porsi fosil sekitar 90 persen dari emisi, transisi ke energi bersih tetap harus berjalan. Hutan bekerja sebagai penyerap dan penyimpan karbon, sementara transisi energi memperkecil emisi yang perlu diserap. Kedua, karbon di hutan tidak permanen. Kebakaran, kekeringan, dan pembukaan lahan bisa melepaskannya kembali, sehingga hutan harus dijaga terus-menerus, bukan ditanam lalu dilupakan.

Arah kebijakan Indonesia: FOLU Net Sink 2030

Indonesia menerjemahkan gagasan ini ke dalam kebijakan lewat Indonesia’s FOLU (Forestry and Other Land Use) Net Sink 2030. Targetnya, sektor kehutanan dan lahan menyerap karbon lebih banyak daripada yang dilepaskan, dengan penyerapan bersih sekitar 140 juta ton CO₂-ekuivalen pada 2030 (Kementerian Kehutanan RI, 2025). Pemerintah juga menargetkan laju deforestasi turun dari 0,918 juta hektare per tahun menjadi kurang dari 0,3 juta hektare per tahun (Kementerian Lingkungan Hidup, 2025).

Arah ini berlanjut di dokumen iklim terbaru. Pada 27 Oktober 2025, Indonesia menyerahkan Second NDC untuk periode 2031–2035 ke UNFCCC. Dokumen itu tetap merujuk FOLU Net Sink 2030 (Climate Action Tracker, 2025b) dan menargetkan serapan sektor kehutanan dan lahan sebesar 206,8 juta ton CO₂-ekuivalen pada 2035 (Kementerian Lingkungan Hidup, 2025). Para pengamat mengingatkan bahwa target ini bergantung besar pada serapan hutan untuk mengimbangi emisi energi yang masih tumbuh (Climate Action Tracker, 2025a). Hutan tidak boleh menjadi alasan untuk menunda transisi energi.

Target sebesar itu menuntut kerja bersama pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat. Hutan tidak bisa dijaga hanya dari gedung perkantoran.

Yang bisa kita lakukan

  • Individu: kurangi jejak karbon harian (transportasi, listrik, konsumsi), dan pilih produk kayu, kertas, serta pangan yang berasal dari rantai pasok bebas deforestasi.
  • Komunitas: ikut menanam dan merawat pohon, termasuk mangrove dan lahan gambut di daerah masing-masing, dan pastikan bibit dirawat sampai tumbuh.
  • Bisnis dan lembaga: tetapkan target pengurangan emisi yang terukur, telusuri asal bahan baku, dan dukung program restorasi dengan pemantauan yang transparan.

Nol emisi bukan satu tanggal di kalender, melainkan hasil pilihan yang diambil terus-menerus. Mengurangi pemakaian bahan bakar fosil dan menjaga hutan adalah dua sisi dari upaya yang sama. Dengan sisa anggaran karbon yang tinggal beberapa tahun, cara kita memakai energi dan cara kita memperlakukan hutan hari ini akan menentukan apakah nol emisi tetap dalam jangkauan.

Daftar Pustaka

Climate Action Tracker. (2025a, November). Indonesia: 2035 NDC. https://climateactiontracker.org/countries/indonesia/2035-ndc/

Climate Action Tracker. (2025b). Targets: Indonesia. https://climateactiontracker.org/countries/indonesia/targets/

Friedlingstein, P., dkk. (2026). Global Carbon Budget 2025. Earth System Science Data, 18, 3211–3288. https://doi.org/10.5194/essd-18-3211-2026

Griscom, B. W., dkk. (2017). Natural climate solutions. Proceedings of the National Academy of Sciences, 114(44), 11645–11650. https://doi.org/10.1073/pnas.1710465114

Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. (2025). Indonesia FOLU Net Sink 2030. https://www.kehutanan.go.id/program/INDONESIA-FOLU-NET-SINK-2030

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup. (2025, 18 Juli). Akhir penyusunan Second Nationally Determined Contribution, Menteri LH: Bukti kesungguhan Indonesia bangun masa depan lindungi bumi. https://kemenlh.go.id/news/detail/akhir-penyusunan-second-nationally-determined-contribution-menteri-lh-bukti-kesungguhan-indonesia-bangun-masa-depan-lindungi-bumi

Bagikan: