Ritual Adat Tolak Bala dan Peluncuran Buku Adat Dayak Dusun Engkadin Perkuat Pelestarian Budaya dan Hutan

24 July 2026

Ritual Adat Tolak Bala dan Peluncuran Buku Adat Dayak Dusun Engkadin Perkuat Pelestarian Budaya dan Hutan
Ritual Adat Tolak Bala dan Peluncuran Buku Adat Dayak Dusun Engkadin Perkuat Pelestarian Budaya dan Hutan
Ritual Adat Tolak Bala dan Peluncuran Buku Adat Dayak Dusun Engkadin Perkuat Pelestarian Budaya dan Hutan
Ritual Adat Tolak Bala dan Peluncuran Buku Adat Dayak Dusun Engkadin Perkuat Pelestarian Budaya dan Hutan
Ritual Adat Tolak Bala dan Peluncuran Buku Adat Dayak Dusun Engkadin Perkuat Pelestarian Budaya dan Hutan

Ketapang, Kalimantan Barat – Masyarakat Dusun Engkadin, Desa Sepakat Jaya, Kecamatan Nanga Tayap, menggelar Ritual Adat Tolak Bala yang dirangkaikan dengan Peluncuran Buku Adat Dayak Dusun Engkadin pada Sabtu (18/7/2026) di Rumah Adat Tumbang Ruwi. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat pelestarian budaya sekaligus menegaskan keterkaitan erat antara adat istiadat dan upaya menjaga kelestarian hutan.

Acara dihadiri oleh Demong Adat dan masyarakat Dusun Engkadin, Pranaraya Indonesia, perwakilan Kecamatan Nanga Tayap, Pemerintah Desa Sepakat Jaya, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), PT Sepanjang Intisurya Mulia (SiSM), PT Simas Sawit Kalimantan (SSK), Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Lemmanis, serta Community Forest Ecosystem Services (CFES). 

Kehadiran PT SiSM dan PT SSK menunjukkan dukungan perusahaan terhadap pelestarian adat dan budaya masyarakat Dusun Engkadin yang berada di wilayah yang berdampingan dengan area operasional perusahaan. Sebagai perusahaan yang beraktivitas di Desa Sepakat Jaya, kedua perusahaan turut mendukung berbagai inisiatif yang mendorong pelestarian budaya lokal serta pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan melalui kolaborasi dengan masyarakat dan para pemangku kepentingan.

Ritual Tahunan Sarat Makna

Ritual Adat Tolak Bala merupakan tradisi tahunan masyarakat Dusun Engkadin yang dilaksanakan setiap bulan Juli sebelum dimulainya musim pembukaan lahan untuk kegiatan berladang. Tradisi ini menjadi ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus doa bersama agar masyarakat diberikan keselamatan, keberkahan, dan perlindungan dalam menjalankan aktivitas, serta agar hutan dan lingkungan tetap lestari.

Ritual dipimpin langsung oleh Demong Adat Dusun Engkadin, Daryanto dan Semboh, bersama para Mantir Adat. Rangkaian prosesi diawali dengan pencucian pusaka kampung, dilanjutkan dengan ritual Tolak Bala, kemudian pemasangan ancak pada batas Dusun Engkadin sebagai simbol perlindungan wilayah adat. Selain memiliki nilai spiritual yang tinggi, ritual ini juga menjadi media pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi muda agar tradisi leluhur tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.

Peluncuran Buku Adat Dayak Dusun Engkadin

Usai pelaksanaan ritual adat, kegiatan dilanjutkan dengan peluncuran Buku Adat Dayak Dusun Engkadin, hasil kolaborasi antara CFES bersama Demong Adat Dusun Engkadin dan berbagai pihak yang terlibat dalam proses penyusunannya.

Dalam pembukaan acara, perwakilan CFES memperkenalkan kerja sama yang telah terjalin antara CFES, LPHD Lemmanis, dan Pranaraya Indonesia dalam mendukung pengelolaan Hutan Desa Lemmanis. Buku adat tersebut disusun sebagai dokumentasi pengetahuan adat sekaligus media pembelajaran bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

Sebagai simbol dimulainya pemanfaatan buku tersebut, dilakukan penyerahan Buku Adat Dayak Dusun Engkadin secara seremonial kepada sejumlah perwakilan yang hadir, termasuk tokoh adat, pemerintah desa, mitra, dan pemangku kepentingan lainnya. Penyerahan ini menjadi bentuk apresiasi atas kolaborasi berbagai pihak dalam proses penyusunan buku sekaligus penegasan komitmen bersama untuk menjaga dan mewariskan nilai-nilai adat kepada generasi mendatang.

Berbagai pihak yang hadir memberikan apresiasi terhadap lahirnya buku tersebut. Ketua Pranaraya Indonesia, Rahmawati, menyampaikan rasa bangga atas keberhasilan penyusunan Buku Adat Dayak Dusun Engkadin. Menurutnya, buku ini diharapkan menjadi media pelestarian budaya sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam menjaga Hutan Desa Lemmanis. Ia juga mengingatkan bahwa menjaga hutan merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan nilai-nilai yang diajarkan dalam agama.

Senada dengan itu, Senior Manager PT SiSM, Maximus WM, menilai peluncuran buku ini sebagai langkah strategis dalam menjaga nilai-nilai budaya dan kelestarian sumber daya alam. Ia berharap buku tersebut dapat diperbanyak sehingga setiap rumah di Dusun Engkadin memiliki satu eksemplar sebagai warisan pengetahuan adat bagi generasi berikutnya.

Sementara itu, Mujahidin dari Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) mengapresiasi terselenggaranya peluncuran buku tersebut. MABM sebagai lembaga adat Melayu selama ini menjalin kolaborasi yang erat dengan Dewan Adat Dayak (DAD) dalam berbagai kegiatan adat dan budaya. Kedua lembaga tersebut memiliki semangat yang sama dalam menjaga keharmonisan antarkomunitas, sehingga MABM dan DAD senantiasa hadir bersama dalam berbagai kegiatan pelestarian adat dan budaya di Kalimantan Barat.

Selain itu, ia berharap masyarakat tidak hanya menyimpan buku sebagai koleksi, tetapi juga membacanya agar nilai-nilai adat terus dipahami dan diwariskan. Ia juga mengusulkan agar isi buku dipublikasikan melalui media sosial sehingga lebih mudah diakses oleh generasi muda. Menurutnya, pelaksanaan peluncuran buku yang bertepatan dengan Ritual Adat Tolak Bala memiliki makna yang sangat sakral karena berlangsung pada awal bulan dalam penanggalan Adat Melayu yang diyakini membawa keberkahan dan rezeki.

Kolaborasi Menjaga Adat dan Hutan

Koordinator Regional Kalimantan CFES, Alponsus Alpiadi, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyusunan buku tersebut. Ia menjelaskan bahwa penyusunan buku dilakukan bersama Demong Adat sebagai upaya mendokumentasikan pengetahuan adat yang selama ini diwariskan secara lisan.

Ia juga mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk aktif terlibat dalam pelaksanaan kegiatan adat sekaligus menjaga kelestarian Hutan Desa Lemmanis. Pada kesempatan tersebut, Alponsus turut memperkenalkan berbagai produk yang dihasilkan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Tanjung Pandan sebagai contoh pengembangan ekonomi masyarakat berbasis hutan yang berkelanjutan. Menutup sambutannya, ia menyampaikan pesan yang menginspirasi, "Jangan tinggalkan air mata, tetapi tinggalkanlah mata air untuk anak cucu kita."

Warisan Pengetahuan untuk Generasi Mendatang

Demong Adat Dusun Engkadin, Daryanto, menjelaskan bahwa penyusunan Buku Adat Dayak telah dimulai sejak akhir tahun 2025. Menurutnya, tujuan utama penyusunan buku adalah sebagai pengingat bagi masyarakat agar adat istiadat dan budaya tidak hilang ditelan zaman.

Ia mengungkapkan sempat merasa khawatir ketika proses penyusunan buku terhenti setelah pendampingan awal bersama akademisi. Namun, melalui dukungan CFES, proses tersebut kembali dilanjutkan hingga akhirnya buku berhasil diterbitkan dan diluncurkan. Ke depan, Daryanto berharap buku tersebut terus disempurnakan dengan penambahan dokumentasi ritual adat, foto-foto kegiatan, serta informasi mengenai berbagai tradisi dan kearifan lokal lainnya.

Usulan lain yang disampaikan agar buku segera dilengkapi dengan nomor ISBN sehingga dapat didaftarkan ke perpustakaan dan dipublikasikan secara lebih luas. Selain itu, ia mendorong penambahan materi mengenai kearifan lokal, khususnya pemanfaatan tanaman obat tradisional sebagai bagian dari kekayaan pengetahuan masyarakat Dayak. 

Momentum Memperkuat Pelestarian Budaya

Pelaksanaan Ritual Adat Tolak Bala yang dirangkaikan dengan peluncuran Buku Adat Dayak Dusun Engkadin menjadi momentum untuk memperkuat sinergi berbagai pihak dalam menjaga kelestarian adat, budaya, dan sumber daya alam. Kehadiran buku tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi upaya dokumentasi warisan budaya yang berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga Hutan Desa Lemmanis sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat adat. Selain menjadi sarana pelestarian budaya, buku ini juga diharapkan menjadi media pembelajaran bagi generasi muda agar nilai-nilai, tradisi, dan kearifan lokal Dayak Dusun Engkadin tetap lestari serta terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bagikan: